RAGAM

Kuburan Angker


Reporter/Juru Kamera : Andi Wardayanto
Tayang : Senin, 3 Juli 2006, Pukul 12:00

Kuburan dikenal sebagai kawasan yang angker. Demikian juga kompleks makam Tionghoa di Sungai Raya, Pontianak, Kalimantan Barat. Bahkan di tempat itu telah terjadi delapan kali kasus kejahatan seksual, dimana empat korbannya malah ditemukan tewas. Akhir Juni lalu, di kompleks makam itu pula tragedi serupa terjadi kembali. Seorang siswi SMU dibunuh saat melawan pelaku yang akan memperkosanya.

Perkampungan yang terletak di dalam kawasan makam warga Tionghoa, di Sungai Raya, Pontianak, Kalimantan Barat, pada hari Rabu, tanggal 21 Juni lalu, kehilangan salah satu warganya yang masih belia. Sebuah kehilangan yang tragis, terutama bagi pihak keluarga.

Korban yang bernama Yunianti alias Afung adalah siswi kelas 2 SMU Immanuel. Siang itu usai pelajaran berolah raga di sekolah, korban pulang berjalan kaki sendirian, melintasi kompleks pekuburan Tionghoa yang terkenal angker. Padahal biasanya, Afung tidak pernah bepergian sendiri, terutama kalau lewat kuburan tersebut. Kalau tidak ada kawan yang menemani, Afung akan menelepon minta dijemput sang ayah atau anggota keluarga lainnya.

Siapa sangka, justru di hari Afung memberanikan diri pulang sendirian melintasi kawasan pemakaman angker itu, berujung tragis. Ironisnya, tempat korban disergap pelaku hanya berjarak 200 meter dari rumah korban.

Dari hasil pemeriksaan polisi, korban tewas akibat luka tusukan di perut dan dada, yang menembus paru-parunya. Tidak ditemukan tindak perkosaan.

Buat warga sekitar, kejadian semacam ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya di kawasan makam yang sangat luas itu telah terjadi setidaknya delapan kali kasus perkosaan, yang empat di antaranya bahkan berujung kematian korbannya. Hingga kini, pelakunya belum terungkap.

Tidak jauh dari tempat jenazah korban tergeletak, polisi menemukan sandal jepit, baju dan senapan angin milik pelaku yang tertinggal. Bahkan sepeda pelaku juga ditinggalkan pelaku yang kabur karena aksinya telanjur ketahuan seorang anggota Brimob bernama Yusman, yang melintas naik motor.

Yusman bahkan sempat menyaksikan korban ditikam. Tapi akibat kaget bercampur panik, saat Yusman berusaha secepatnya memarkir sepeda motornya agar dapat menolong korban, ia malah terjatuh beberapa kali. Membuat pelaku langsung melarikan diri, menyadari kehadiran Yusman.

Sore itu juga dilakukan penyisiran mencari pelaku di seputar kawasan makam yang sangat luas dan dipenuhi semak belukar itu. Warga sekitar ikut membantu pencarian tersebut. Selain ingin membantu, mereka juga geram, karena seringnya terjadi tindak perkosaan yang diikuti pembunuhan di kawasan tersebut.

Sore hari sekitar empat jam setelah kejadian, tersangka akhirnya ditemukan, bersembunyi di dalam semak belukar. Untungnya saat itu tersangka masih sempat diselamatkan polisi yang langsung membawanya ke rumah sakit. Kalau tidak, bukan mustahil tersangka yang berusia 23 tahun itu tewas diamuk massa yang geram dengan perbuatannya. Akibat dihajar dengan kayu dan batu, tersangka yang beridentitas Karto Martono alias Yo Ti itu menderita luka yang cukup parah di kepala dan sekujur tubuhnya.

Sebelumnya, kira-kira setahun lalu, di dekat tergeletaknya mayat A Fung, warga menemukan jenazah seorang gadis lain yang tewas akibat diperkosa dan dibunuh. Hingga kini pelakunya belum terungkap. Karena itu juga orang tua Afung selalu berpesan, agar anak-anaknya tidak melintasi kompleks makam itu sendirian.

Seringnya terjadi peristiwa kejahatan di kompleks makam tersebut sebetulnya sudah diwaspadai keluarga korban. Sang ibu misalnya, kerap kali mengingatkan anak sulungnya itu untuk tidak berjalan sendirian melalui kawasan sepi tersebut. Namun, apa daya, mimpi buruk itu menjadi kenyataan.

Di gedung sekolah yang terdiri dari SMP dan SMU inilah korban Afung pernah menuntut ilmu. Sekitar satu tahun lalu, ketika Afung masih SMP, teman sekolahnya juga menemui nasib naas. Tewas akibat dibunuh di tempat yang sama. Bahkan teman Afung itu sempat diperkosa sebelum menemui ajal.

Tragedi yang terjadi satu tahunan lalu di kawasan kuburan warga Tionghoa itu bahkan bukan yang pertama. Setidaknya sejak tahun 2000 telah terjadi delapan kali kasus kejahatan seksual, dimana empat korbannya ditemukan tewas. Ada dugaan, semua peristiwa tersebut pelakunya sama, berdasarkan TKP dan tindak kekerasan antara lain berupa luka tusukan pada tubuh para korban. Dan sampai kini, pelakunya pun belum terungkap.

Sebetulnya, sejak lama sudah ada pos polisi di depan kompleks makam. Tapi tetap saja kawasan ini rawan dengan kejahatan asusila yang diikuti pembunuhan. Kemungkinan, itu akibat bangunan makam yang cukup tinggi, ditambah kondisi makam kurang terawat, sehingga semak belukar tumbuh subur menghalangi pandangan mata.

Oleh karena itu, warga setempat terutama perempuan, seringkali was-was bila terpaksa harus melewati areal pekuburan seluas empat puluh lima hektaran tersebut. Keluarga korban ketakutan itu pula yang dirasakan kedua orang tua Afung. Pasangan suami istri itu selalu mengingatkan anak-anak mereka, terutama Afung yang sudah beranjak remaja, tentang bahayanya melintasi areal pekuburan tersebut sendirian.

Karenanya sang ibu tidak habis pikir, kenapa anak sulung kesayangannya yang biasanya selalu patuh itu, pada hari naas tersebut tidak minta dijemput. Jarak antara lokasi kejadian dengan rumah korban memang tidak jauh. Tidak sampai 5 menit berjalan kaki. Mungkin itu pula sebabnya korban memutuskan pulang sendirian. Apalagi saat itu masih sekitar jam sebelas siang.

Kematian A Fung memang sangat menyakitkan dan menoreh perih bagi keluarganya. Sulung dari 5 bersaudara itu selain rajin dan baik, amat sayang pada adik-adiknya. Kepedihan orang tua korban kian terasa, saat anak bungsu mereka yang baru berusia setahun menanyakan keberadaan sang kakak. selama ini korbanlah yang mengasuh adik terkecilnya itu.

Polsek Sei Raya sementara itu tersangka pembunuh Afung sudah mendekam di kantor Polsek Sungai Raya, Pontianak, Kalimantan Barat. Kepada polisi, tersangka yang bekerja sebagai buruh angkut itu, mengaku keberadaannya di lokasi makam, semata untuk berburu burung dengan senapan angin.

BAP menurut tersangka, kedatangannya ke tempat itu adalah untuk yang kedua kalinya. Entah mengapa, dari sekedar ingin menembak burung, pikiran jahatnya melintas saat Afung yang mengenakan baju olahraga berjalan sendirian.

Kebiasaan menonton film porno ia akui membuatnya sering tak bisa mengendalikan nafsu. Kadang nafsu birahinya ia salurkan kepada pekerja seks komersial. Tapi siang itu tampaknya tersangka coba-coba untuk melangkah lebih jauh. Menurut tersangka, saat berpapasan dengannya, korban sudah curiga, lantas berlari melewati dirinya. Tapi langsung ia tangkap.

Saksi yang memergoki perbuatan jahatnya, segera memanggil warga, dan dalam sekejap kawasan itu ramai dipenuhi orang. Membuat tersangka sulit melarikan diri. Terlebih, barang-barangnya pun masih tertinggal, membuat ia yakin identitasnya akan terungkap.

Keluarga tersangka kaget bukan kepalang begitu tahu Yo Ti pelakunya. Apalagi sempat ada dugaan, pemuda itu terkait serangkaian pembunuhan di kompleks makam tersebut.

Tersangka Yo Ti tinggal di desa lain, di kawasan Adisucipto, Pontianak, Kalimantan Barat. Ia tinggal bersama dua kakaknya. Sang ayah sudah lama meninggal, dan ibunya telah menikah kembali.

Di mata kakak-kakaknya, tersangka yang merupakan anak keempat dari lima bersaudara itu adalah pribadi yang pendiam bahkan pemalu. Walaupun tersangka dan saudara-saudaranya ini tidak tinggal serumah dengan ibu mereka, namun hubungan antara ibu dan anak tetap terjaga.

Paling tidak hal itu terlihat saat Veri diberitahu tetangganya, sang adik babak belur dihajar massa akibat membunuh seorang gadis. Veri langsung menelpon kakak tertuanya yang tengah bekerja dan memberitahu sang ibu. Begitu kagetnya menghadapi kenyataan sang adik melakukan percobaan perkosaan bahkan sampai membunuh, kakak tertua tersangka bahkan sempat berpikir, adiknya itu difitnah.

Sementara itu, mengenai kemungkinan Yo Ti juga pelaku kejahatan yang terdahulu, hingga saat ini polisi belum menemukan kaitan ataupun bukti-bukti yang bisa menghubungkan tersangka dengan peristiwa itu.

Dengan terulangnya kembali tragedi ini, pihak Poltabes Pontianak kabarnya berencana membangun pos polisi baru tepat di tengah-tengah kompleks pekuburan. Semoga saja apa yang diharapkan pihak keluarga, agar Afung tidak tewas sia-sia, terwujud. Ddaerah mereka tidak lagi angker, aman dilalui siapa saja.(Idh)




Baca Juga:

Berita HOT:
More RAGAM:
[ more Ragam ]