RAGAM

Duel Yang Membawa Maut


Untitled Document

Reporter : Lena Sari
Kameramen : Joni Suryadi

indosiar.com, Pangkep - Seorang pemuda di Pangkep, Sulawesi Selatan, tewas akibat berduel dengan pamannya sendiri. Perkelahian tersebut berawal dari kata-kata kasar korban kepada pamannya, yang membuat sang paman sakit hati, dan menyelesaikannya secara adat siri.

Peristiwa

Kasus pembunuhan yang memakan korban Mudo ini, sebenarnya diawali dengan masalah yang sepele. Hanya karena merasa tersinggung dengan perkataan Rusi, yang masih terbilang pamannya sendiri, Mudo mengajak sang paman untuk berduel dengan menggunakan badik, senjata khas Sulawesi Selatan. Ternyata duel antara paman dan keponakan ini, mengakibatkan sang keponakan tewas, akibat terkena tusukan badik.

Peristiwa tragis ini terjadi di Kampung Bontomarannu, Kecamatan Bungoro, Pangkep, Sulawesi Selatan. Rabu, 10 Desember 2003 lalu, ketika masyarakat sekitar mulai melakukan aktifitas dipagi hari, Mudo, warga Kampung Binanga Polo, saat itu sedang mengantar anaknya ke rumah salah seorang keluarganya.

Di perjalanan, Mudo bertemu dengan pamannya, Rusi, yang saat itu sama-sama sedang mengendarai sepeda motor. Ketika sampai di sebuah jembatan, Rusi memberitahu Mudo bahwa anaknya hampir terjatuh. Hal itu bukannya membuat Mudo senang diperingatkan, tetapi malahan membuat dia kesal, lalu mengeluarkan perkataan yang menurut budaya masyarakat Bugis Makassar sangat kasar, dan tidak pantas diucapkan.

Tidak selesai sampai disitu. Mudo kemudian memukul kepala belakang sang paman, dan mengajaknya berduel. Rusi awalnya tidak bersedia melayani tantangan keponakannya tersebut. Bahkan, dia berusaha menasehati keponakannya agar sadar dan tidak mengikuti hawa nafsu mengajaknya berduel.

Namun Mudo sama sekali tidak menghiraukan nasehat Rusi, bahkan ia semakin naik pitam dan segera pergi dengan sepeda motornya untuk mengambil badik dirumahnya. Duel antara Rusi dan Mudo pun tak terhindarkan lagi. Sekitar pukul 8 pagi, Mudo dan Rusi kembali bertemu di tempat yang telah mereka sepakati, dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, kedua orang yang masih memiliki ikatan keluarga tersebut langsung mencabut badik dan saling menyerang.

Malang bagi Mudo, belum sempat mencabut badiknya, dia sudah menjadi sasaran tusukan badik Rusi, hingga berkali-kali. Bahkan ketika Mudo sudah tersungkur ke dalam selokan, Rusi masih tetap menusuk tubuh keponakannya tersebut. Pria berusia 35 tahun itu, akhirnya tewas mengenaskan, dengan 20 luka tusukan dan usus terburai.

Melihat lawannya sudah tidak berdaya, Rusi meninggalkannya dan langsung menyerahkan diri ke Polsek setempat. Petugas Polsek Bungoro kemudian mendatangi lokasi kejadian, dan menemukan korban Mudo, sudah tidak bernyawa.

Dari keterangan tersangka kepada petugas diketahui, peristiwa pembunuhan tersebut hanya disebabkan emosi sesaat. Karena perkataan kasar yang dilontarkan korban, tersangka merasa tersinggung dan melakukan siri, sebuah adat masyarakat Makasar, untuk menebus rasa malu.

Hingga kini polisi belum menemukan motif lain terhadap kasus pembunuhan tersebut. Sebab antara tersangka dan korban tidak memiliki permasalahan yang serius. Bahkan keduanya sebelumnya begitu akrab satu sama lain.

Kesaksian

Tersangka pun mengaku, ketika berduel dengan korban, dirinya sudah tidak sadar, yang ada dibenaknya saat itu hanya ingin menghabisi nyawa korban. Sehabis membunuh, tersangka sempat menjilat darah korban. Hal itu dilakukan tersangka mengikuti kepercayaannya, agar dirinya tidak diganggu arwah korban.

Polisi memang tidak perlu bekerja keras untuk mengungkap kasus pembunuhan ini. Karena tersangka langsung menyerahkan diri dan mengakui segala perbuatannya. Meskipun demikian, hal itu tidak mempengaruhi proses hukum yang dilakukan polisi terhadap tersangka. Karena bagaimanapun juga, tersangka tidak berhak menghilangkan nyawa seseorang.

Meski masih memiliki pertalian saudara, namun adat siri itu tetap berlaku dan harus dilaksanakan. Entah apa yang ada dibenak kedua pria itu. Namun yang pasti diantara keduanya salah satu harus menjadi korban.

Hasma, tidak pernah menduga, bahwa pada tanggal 10 Desember 2003 lalu merupakan hari terakhir ia bertemu dengan Mudo, pria yang telah menjadi pendamping hidupnya selama 15 tahun. Pagi itu, Mudo berjanji akan menjemput dirinya di rumah, sehabis mengantar anaknya kerumah saudaranya. Namun bukannya sang suami yang datang menjemput, melainkan berita duka tentang kematian sang suaminya yang kemudian datang kepadanya.

Wanita beranak 4 ini, begitu terkejut tatkala mengetahui siapa pelaku pembunuhan terhadap suaminya. Karena selama ini antara suaminya dengan tersangka memiliki hubungan yang baik. Bahkan suaminya kerap bertandang kerumah tersangka.

Hasma tidak habis pikir, mengapa tersangka Rusi begitu tega membunuh suaminya. Ia pun tidak percaya dengan alasan tersangka, yang mengatakan pembunuhan itu dilatar belakangi kata-kata kasar yang diucapkan suaminya kepada tersangka.

Apalagi selama menjadi istri korban, Hasma tidak pernah mendengar suaminya berkata-kata kasar. Terlebih lagi, menyebut kata-kata yang sangat tabu untuk diucapkan oleh masyarakat Bugis Makassar. Dimata Hasma, korban merupakan pria yang bertanggung jawab dan baik. Bahkan suaminya tersebut tidak segan-segan membantu dirinya menyelesaikan pekerjaan di rumah, apabila sedang tidak bepergian. Bagi warga sekitar, korban pun dikenal sebagai pria yang pendiam dan suka menolong.

Sementara itu, Sia, istri tersangka, juga tidak menduga suaminya akan berbuat nekat membunuh korban. Sebelum kejadian, ia memang melihat suaminya pulang kerumah, namun wanita berusia 40 tahun ini, tidak menyadari kepulangan suaminyanya itu untuk mengambil badik.

Sia juga sangat terkejut atas perbuatan suaminya tersebut, pasalnya selama hampir 24 tahun hidup bersama tersangka, ia mengenal suaminya sebagai pria yang sabar.

Namun demikian, iapun menyadari, konsekuensi adat siri bagi masyarakat Bugis Makassar. Apabila dipermalukan, maka duelpun tidak akan terelakkan, dan salah seorang diantaranya akan menjadi korban.

Setelah peristiwa pembunuhan itu, Sia dan ketiga anaknya dirundung rasa ketakutan, karena beberapa keluarga korban kerap melakukan teror, bahkan mendatangi rumahnya. Sehingga ia tidak berani membuka pintu dan jendela rumahnya. Bahkan untuk keamanan, pintu dan jendela rumahnya dipalang dengan kayu.

Delik

Peristiwa pembunuhan tersebut meninggalkan duka bagi keluarga korban maupun tersangka. Istri dan anak-anak mereka terpaksa kehilangan sosok ayah, yang tidak saja menjadi pembimbing bagi anak-anaknya, tetapi juga menjadi tumpuan untuk mencari nafkah. Kini tinggallah istri korban dan tersangka menanggung beban hidup sendirian, harus mendidik dan membesarkan anak-anak mereka tanpa didampingi sang suami tercinta.

Polisi akan menerapkan pasal pembunuhan terhadap tersangka. Meski perbuatannya itu tidak disengaja, namun hukum harus tetap ditegakaan. Sehingga nantinya kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali.

Polisi sudah menyiapkan pasal pembunuhan, dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana,(KUHP) untuk menjerat tersangka. Meskipun demikian, pengadilanlah yang nantinya akan menentukan nasib tersangka.

Sementara itu, bagi tersangka Rusi, ia sadar benar akan ganjaran hukum yang harus dijalaninya, karena telah menghilangkan nyawa manusia. Namun bagi dirinya, itulah konsekuensi dari menegakkan budaya siri, karena untuk menutup rasa malu, hanya dapat dibayar dengan pertarungan, yang salah seorang diantaranya akan menjadi korban.

Budaya ini tidak saja dilakukannya, tetapi juga telah dijalankan oleh masyarakatnya secara turun temurun.

Meskipun demikian, tak urung tersangka Rusi juga menyesali nasibnya. Karena apapun alasannya, perbuatan membunuh keponakannya, harus ditebus dengan berada di balik jeruji penjara.

Apa Kata Mereka

Perbuatan Rusi tersebut juga sangat disesali keluarga korban. Mereka berharap hukuman yang akan dijalani tersangka setimpal dengan perbuatannya. Bahkan istri korban masih menyimpan rasa dendam tehadap tersangka.

Peristiwa yang terjadi di Pangkep, Sulawesi Selatan, ini memberikan pelajaran, agar setiap orang berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata. Ibarat kata pepatah, “Mulutmu Harimaumu”. Lidah Memang Bisa Lebih Tajam Dari Sebilah Pedang.

Apa yang diucapkan seseorang dapat menimbulkan dampak yang sebelumnya mungkin tidak pernah dipikirkan. Yaitu hilangnya nyawa seorang manusia, dengan alasan hanya untuk menegakkan harga diri. Hal ini tentu saja masih dapat diperdebatkan, apakah pantas untuk membela sebuah harga diri, harus diganjar dengan hilangnya nyawa seorang manusia. (Sup)

Video Streaming




Berita HOT:
More RAGAM:
[ more Ragam ]